DPPPA KABUPATEN TANGERANG MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1447 H
DINAS KESEHATAN KABUPATEN TANGERANG MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1447 H
DIREKTUR UTAMA DAN WAKIL PIMPINAN REDAKSI MEDIA KOMPASNEWS COM

Home / Berita Utama / Budaya

Selasa, 13 September 2022 - 06:52 WIB

Prawita GENPPARI Kunjungi Pusat Seni Tradisional Sintren, Kabupaten Tegal

Mediakompasnews.Com – Tegal -Dalam konteks pengembangan potensi kepariwisataan, Indonesia memiliki jumlah dan keragaman yang luar biasa. Tidak sekedar dalam bentuk keindahan alam saja, tetapi juga ada potensi seni dan budaya yang sangat unik dan menarik. Termasuk aneka produk ekonomi kreatif yang dihasilkan oleh para pelaku UMKM di berbagai daerah yang memiliki keunikan dengan sentuhan kreativitas yang sangat menarik.“ Salah satu seni budaya yang dimiliki oleh kabupaten Tegal adalah seni tradisional Sintren yang nampaknya jika tidak dilestarikan bisa hilang sebagai seni budaya lokal. Hal ini diakibatkan oleh banyak faktor, termasuk derasnya arus budaya luar yang masuk dan banyak digandrungi kawula muda saat ini. Disinilah pentingnya para tokoh masyarakat untuk tetap bisa menjaga dan merawat warisan seni budaya bangsa “, ujar Ketum DPP Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di Tegal, Minggu (11/9/22).

Baca Juga :  Turnamen Futsal IPK CUP I Resmi Ditutup, Ini Pemenangnya

Hal tersebut ia sampaikan saat mengunjungi pusat seni tradisional Sintren di kabupaten Tegal. Kunjungan yang pertama kali ke lokasi tersebut didampingi Tim dari DPP Prawita GENPPARI dengan didampingi oleh seluruh jajaran calon pengurus DPD Prawita GENPPARI kabupaten Tegal. Termasuk rekan – rekan lainnya dari ASGAS RI, LIN dan Tipikor sehingga gelar seni tradisional tersebut tampak lebih meriah.

Seni Tradisional Sintren merupakan salah satu kekayaan budaya dan kearifan lokal di kabupaten Tegal. Beberapa tokoh masyarakat setempat ada yang berpendapat bahwa seni budaya lokal tersebut tidak menutup kemungkinan akan punah dari perbendaharaan budaya bangsa jika tidak dilestarikan.

Munculnya seni budaya tradisional Sintren tidak bisa lepas dari kondisi masyarakat agraris disana. Dimana sebagian masyarakat petani pada awalnya sering menggunakan kesenian yang sarat mistis itu untuk mengundang hujan atau mencegah bencana terhadap hasil pertanian mereka, misalnya mengusir hama dan sebagainya. Kesenian ini diperankan gadis yang suci atau masih perawan. Namun dalam perkembangannya, pertunjukkan Sintren ini hanya sebagai kebutuhan hiburan, bukan lagi sebagai ritual.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Lantik Dua Anggota Wantimpres

Menurut kepercayaan sebagian masyarakat setempat, kesenian tradisional Sintren merupakan tarian mistis karena di dalam ritualnya mulai dari permulaan hingga akhir pertunjukan banyak ritual magis untuk memanggil roh sehingga penarinya tidak sadar saat menari. Penarinya sendiri disebut Sintren (untuk penari perempuan) dan Lais (untuk penari laki- laki).

Prosesi seninya sendiri dimulai dimana seorang penari dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang berselebung kain. Pawang atau dalang kemudian membakar kemenyan dan merapalkan mantra memanggil ruh. Jika pemanggilan roh berhasil, maka ketika kurungan dibuka, sang gadis tersebut sudah terlepas dari ikatan dan berdandan cantik, lalu menari diiringi gending. Pawang atau dalang juga menjalani sejumlah ritual sebelum memulai pertunjukan Sintren. Mereka harus berpuasa patigeni, tidak makan dan minum serta tidak keluar rumah selama beberapa hari sebelum tampil. Mereka puasa mutih (hanya makan nasi dan minum air putih) selama beberapa hari sebelum tampil.

Baca Juga :  Kapolri: Terus Berjuang Buruh untuk Tingkatkan Kesejahteraan dan Wujudkan SDM Unggul

“ Inilah salah satu kekayaan seni budaya bangsa, khususnya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Tegal. Hal ini juga sekaligus fakta bahwa seni budaya di Indonesia ini sangat beragam dan jumlahnya banyak, maka tentu saja hal ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Bukan hanya wisatawan dalam negeri saja, tetapi juga bisa dari para wisatawan mancanegara “, pungkas Dede.

(Allek)

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Bhabinkantibmas Polsek Pancoran Memberi Penyuluhan Kepada Karang Taruna Bahaya Narkoba Dan Aksi Tawuran 

Berita Utama

Mayor Inf Trijoyo, Kasdim 0414/Belitung Pimpin Upacara Bendera Mingguan

Berita Utama

Pemilik Sabu Di Bangun Jaya Tak Berkutik Pada Personil Sat Resnarkoba Polres Rohul

Berita Utama

RW 005 Pecahkan Rekor Dengan Kemenangan Gemilang Dalam Turnamen Bola Voli HUT Desa Suka Damai Yang Ke 44 Tahun 2023

Berita Utama

Makam Brigadir J Dibongkar Guna Autopsi Ulang Atas Permintaan Keluarga Dalam Mencari Keadilan

Berita Utama

Keluarga Besar Media Kompas news.com Mengcapkan Belasungkawa Atas wafatnya Parmadi Wartawan forum wartawan Jakarta (FWJ)

Berita Utama

Lewat Police Art Festival, Polri Ingin Wujudkan Lingkungan Ramah Disabilitas dan Buka Ruang Kritik

Berita Utama

Bukti Uang Adalah Panglima, Konspirasi Lepasnya Henry Surya Bocor ke Publik