DPPPA KABUPATEN TANGERANG MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1447 H
DINAS KESEHATAN KABUPATEN TANGERANG MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1447 H
DIREKTUR UTAMA DAN WAKIL PIMPINAN REDAKSI MEDIA KOMPASNEWS COM

Home / Budaya

Minggu, 16 Oktober 2022 - 15:04 WIB

FKWSG Gali Kesenian Burok Sebagai Ikon Budaya Gebang

Mediakompasnews.Com – CIREBON – Untuk mengukuhkan dan menunjukkan bahwa kesenian burok yang kini sudah menyebar ke daerah-daerah lain merupakan asli dari Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon, para penggiat seni budaya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Warga Sutajaya Gebang (FKWSG) melakukan show of force pertunjukan tari kolosal 100 burok dalam even Pagelaran Seni Budaya dan Haul Pamgeran Sutajaya Gebang yang berlangsung di halaman kantor Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon, Minggu (16/10/22).

Hadir ikut menyaksikan acara tersebut putra wakil Presiden RI yang juga seniman dan budayawan Nasional Gus Syauqi  Ma’ruf Amin, Bupati Cirebon H. Imron, Dandim 0620/Kabupaten Cirebon Letkol Inf Faurizal Nurdin,  Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Cirebon, Fajar Syahputra, Anggota DPRD Provinsi Jabar Hj. Yuningsih, Anggota DPRD Kabupaten Cirebon, Aan Setiawan, Kadis Budpar Kabupaten Cirebon Deny Nurcahya, dan sejumlah tokoh masyatakat lainnya.

Ketua umum FKWSG, H. Tarmadi melalui wakil ketuanya, Abdul Manap mengungkapkan, pertunjukan tari kolosal 100 burok yang digelarnya tersebut dilakukan untuk menegaskan kepada khalayak luas bahwa kesenian burok merupakan asli kesenian dan budaya yang berasal dari Kecamatan Gebang, dalam catatan sejarah bahwa Kesenian Burok diciptakan pertama kalinya oleh Bapak Ta’al di Desa Kalimaro Kecamatan Gebang (dulunya sebelum dimekarkan masih masuk Kecamatan Babakan) Kabupaten Cirebon pada kisaran tahun 1920, saat itu burok dibuat dalam bentuk Bedawang semacam kurungan yang dihias dengan bentuk kepala burok dan bisa goyang.

Baca Juga :  TNI Latih Masyarakat Belajar Musik, Lestarikan Budaya Seni Musik Jawa Barat

Menurutnya, untuk mengiringi musik genjring palempangan atau terbangan dengan ketika asyrokol saat membaca albarjanji atau membacakan sholawat dengan lagu-lagu
yang digelar dalam acara memperingati Isra Mi’raj, seiring waktu kesenian burok digelar bukan saja untuk memperingati Isra Mi’raj namun juga untuk untuk perayaan yang bernafaskan keislaman seperti khotmil quran, khitanan dan membangunkan orang sahur.

“Kami ingin menegaskan bahwa kesenian burok lahir di Gebang, jangan sampai daerah lain mengklaim kesenian burok ini, ” tegasnya.

Ditambahkan Abdul Manap, seiring waktu dan perkembangan kemajuan jaman, di era tahun 1980an kesenian burok yang akhirnya sering digunakan mengarak hajatan pengantin sunat, musik atau tabuh-tabuhan yang sejarah awalnya berupa genjring terbangan, mulai  mengadopsi alat musik modern seperti seruling, gitar, organ dan lainnya, kesenian burok Cirebon sempat menjadi kesenian yang go nasional dengan memperkenalkan keseniam burok dangdut, saat itu H. Mustofa dari Desa Pakusambrn Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon memperkenalkan kesenian burok hingga di wilayah Jakarta, Lampung, Medan  bahkan sampai ke Bali.

Baca Juga :  Leadership Day - SD AN-NISAA' Global Leadership school with Islamic Values

“Sejak saat itu kesenian burok dikenal dimana-mana dan daerah lain mulai melirik dan membuat kesenian burok dengan berbagai versi seni musik sesuai daerahnya, ” jelasnya.

Lanjut menurut Abdul Manap, hingga saat ini kesenian burok masih belum ada yang menghak patenkan sehingga bisa saja kesenian burok akan diklaim oleh daerah lain, misal di Banjarharjo Brebes, mereka memgembangkan kesenian burok semenjak tahun 1926 meskipun pertamakalinya pesan membuat kepala burok dari Desa Kalimaro, saat ini kesenian burok sudah menusantara dan mereka mengembangkan dengan gaya musik daerahnya.

Baca Juga :  RUBI Indramayu Gelar Event Nasional

Kekhawatiran tersebut srlalu memghantui para seniman burok di Kabupaten Cirebon khususnya di wilayah Kecamatan Gebang, maka dalam setiap momen pagelaran seni budaya dan haul Pangeran Sutajaya Gebang, kesenian burok selalu dimunculkan dengan menggelar tari kolosal burok sebanyak -banyaknya untuk menunjukkan bahwa Gebang memang asli asal kesenian burok dan hanya di Gebang yang bisa mengumpulkan burok sebanyak itu, bisa jadi tari kolosal 100 burok ini adalah tari kolosal burok terbanyak di dunia, karrna daerah lain belum tentu bisa mengumpulkan sebanyak itu, selain itu  sebagai bukti kesenian burok asli dari Gebang, FKWSG memunculkan kepala burok yang pertama kali dibuat pada tahun 1920 oleh bapak Ta’al beserta alat musiknya.

“Kami berharap ada campur tangan pemerintah Kabupaten Cirebon agar Kesenian burok diakui secara sah dengan di hak patenkan menjadi kesenian asli Kabupaten Cirebon, sebelum dicuri daerah lain, ” harapnya.

(A Hidayat)

Share :

Baca Juga

Peristiwa

Tanam Pisang Dijalan Berlobang, Bentuk Protes Warga Terkait Rusak Parahnya Jalur Semanu-Karangmojo

Berita Utama

AMAK Gelar Aksi Damai Terkait Ada Dugaan Surat Tanah Palsu Untuk Kepentingan PSN PIK 2

Banten

Akibat Cuaca Ekstrim, ASDP Menutup Sementara Pelayanan Penyeberangan Merak-Bakauheni

Peristiwa

Kecelakaan merenggut korban jiwa kembali terjadi di wilayah Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan

Berita Utama

Dianggap Suara Tidak Sah, Surat Suara Nyasar, KPPS Kurang Paham dan Teliti

Ekonomi dan Bisnis

Martha Tilaar Group Wakili Indonesia Sebagai Juri Di Ajang Bergengsi Inovasi Kosmetik Dunia

Berita Utama

Satrenarkoba Polres Kubu Raya Tangkap 6 Pelaku Kejahatan Narkotika

Hukum dan Kriminal

Terjerat UU Tipikor, Tersangka Bupati Mimika Gugat KPK Lewat Praperadilan