LOGO MEDIA KOMPASNEWS.COM
KETUM FWJ INDONESIA

Home / Berita Utama / Nasional

Rabu, 27 Juli 2022 - 10:22 WIB

Menyikapi Stunting Sebagai Masalah Genting Dalam Menghadapi Ancaman Non-Tradisional

Mediakompasnews.Com – NTT – Kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Nusa Tenggara Timur pada tanggal 24 Maret 2022, yang merupakan implementasi pemerintah untuk menekan pertumbuhan angka stunting di Indonesia merupakan angin segar bagi bangsa dan negara ini.

Bagaimana tidak, alasan presiden mengunjungi NTT ini karena Provinsi tersebut merupakan “lumbung stunting”, dimana 48 dari 100 anak usia balita terpapar stunting. Ini merupakan hal yang sangat menyedihkan.

Kondisi inipun dijelaskan juga oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, bahwa kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, menunjukkan kepedulian dan komitmen dari Presiden dan pemerintah pusat akan penyelesaian persoalan

Langkah pemerintah juga terlihat cukup serius dan konsisten, ketika dalam rapat koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Pusat di Istana Wakil Presidendi Jakarta pada tanggal 11 Mei 2022, Wakil Presiden Ma’ruf Amin menegaskan bahwa angka prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2022 dapat turun, minimal mencapai 3 persen dibandingkan tahun 2021 yang berada di angka 24,4 persen.

Tidak hanya untuk Nusa Tenggara Timur, merupakan masalah nasional yang mempunyai potensi dalam menghambat kemajuan bangsa. Dalam spektrum yang sangat luas, <em>juga berpotensi sebagai objek olahan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan menguasai sumber daya milik bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Dilihat dari perspektif ancaman non-tradisional atau populer disebut <em>Asymmetric Warfare</em>, perang asimetris, stunting bisa menjadi modus operandi dalam melancarkan serangan melemahkan sumber daya manusia Indonesia secara umum, dan melemahkan potensi generasi muda anak-anak desa secara khusus dan dilihat dari segi kewilayahan yang merupakan lingkungan pemerintahan terkecil di negeri ini.

Baca Juga :  Sensus 2026 Akan Datang! BPS Kabupaten Tegal Larikan Melek Data ke Setiap Sudut Desa

Dengan asumsi wilayah desa sebagai lingkungan terkecil yang juga ada di lingkungan masyarakat urban perkotaan yang biasa disebut Kelurahan, stunting tidak memandang kelas sosial ekonomi atau SES yang ada di kota besar. Perilaku yang salah dalam menyikapi tumbuh kembang anakpun akan sangat berpengaruh terhadap gizi seorang anak, apalagi di 1000 hari pertama mereka. Ibu yang berada di wilayah kelurahan dalam lingkungan perkotaan dengan daya beli relatif tinggi sekalipun, dapat menyebabkan anaknya menderita stunting jika salah dalam menata asupan gizi anaknya.

Terkait masalah ini dibutuhkan kolaborasi yang memiliki konsep dan strategi yang mumpuni antara berbagai pihak yang bisa kita perkuat dalam konsep Triple Heli dimana Pemerintah, Institusi Pendidikan dan Sektor Usaha atau swasta saling terkait dalam sebuah integrated movement atau gerakan terpadu dalam upaya menekan pertumbuhan stunting, sekaligus merupakan strategi kontra-intelijen dalam mengantisipasi ancaman non-tradisional atau perang asimetris tersebut.

Pemerintah dalam hal ini pihak Kementerian maupun Badan yang memiliki nomenklatur relevan dengan masalah stunting harus menghasilkan Public Policy atau kebijakan Publik yang kompatibel dengan kondisi masyarakat sesuai realita yang ada, berdasarkan kontribusi dari Institusi Pendidikan yang memberi masukan berupa analisa akademik dari berbagai perspektif dan disiplin ilmu, terkait masalah stunting.

Baca Juga :  GRANID Siap Bersinergi dengan Kepolisian Perangi Narkoba di Banten TANGERANG – Ketua Umum Gerakan Rehabilitasi dan Anti Narkotika Indonesia (GRANID), H. Akhyar Kamil, S.H., menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi dengan Kepolisian Republik Indonesia, khususnya di wilayah Provinsi Banten, dalam memerangi penyalahgunaan narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Sebagai organisasi sosial yang bergerak melalui pendekatan preventif, edukatif, dan rehabilitatif, GRANID fokus membangun ketahanan sosial masyarakat serta memberdayakan generasi muda—kelompok paling rentan terhadap bahaya narkoba. > “Rehabilitasi dan pencegahan harus berjalan beriringan. GRANID siap menjadi mitra strategis kepolisian dalam memutus mata rantai peredaran narkoba,” tegas Akhyar Kamil. Ia menyoroti bahwa kejahatan narkotika adalah ancaman multidimensi yang tak bisa ditangani satu sektor saja. Kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh agama, hingga masyarakat sipil, mutlak diperlukan. Saat ini, GRANID mengimplementasikan berbagai program strategis, seperti: Literasi anti-narkoba melalui kampanye edukatif di sekolah dan komunitas, Pendampingan sosial berbasis komunitas, Pelatihan konselor sebaya, serta Kemitraan kelembagaan dengan berbagai instansi. Provinsi Banten dipilih GRANID sebagai wilayah percontohan nasional dengan model penanganan berbasis masyarakat yang inklusif, sistemik, dan berkelanjutan. > “GRANID bukan sekadar gerakan, melainkan wadah pengabdian kolektif untuk menyelamatkan masa depan generasi bangsa. Mari bersama ciptakan Indonesia yang bersih dari narkoba,” tutup Akhyar Kamil.

Selanjutnya, pihak yang berada di ring sektor usaha atau swasta, merupakan mitra yang mengimplementasikannya secara profesional, termasuk dalam melakukan fund raising atau pengumpulan dana, karena gerakan ini membutuhkan dana yang tidak sedikit, meskipun pemerintah sendiri memiliki anggaran.

Harus dibangun sebuah konsep yang juga menguntungkan sektor usaha atau swasta yang akan mendukung dan berkontribusi, sehingga secara branding dan image building korporasi merekapun mendapat benefit sekaligus secara faktual memberikan solusi taktis, praktis, dan edukatif secara langsung di masyarakat.

Sebagai bagian dari bangsa ini, kita harus semakin peka melihat berbagai fenomena yang mengarah kepada gejala ancaman non-tradisional ini. Seribu persen kita yakin Indonesia tidak akan pernah diluluhlantakkan dengan dasar penguasaan ekonomi. Dengan adanya dampak perang Rusia – Ukraina yang masih pararel dengan situasi pandemi Covid-19 yang sudah cukup kisruh dengan berbagai wacana “membodohkan masyarakat” melalui berbagai propaganda lewat medsos yang sudah tidak jelas lagi mana hoax mana berita yang benar tentang vaksin, kini mata dunia tertuju pada Indonesia dalam hal terkait urusan kebutuhan dasar dunia seperti pangan, minyak dan gas, mineral, berbagai bahan mentah dan lain sebagainya.

Pemahaman tersebut cukup jelas mengingatkan kita bahwa bangsa kita menjadi sasaran agar menjadi lengah, tidak merawat dan menjaga eksistensi sumber daya alamnya. Jalan yang paling mudah adalah melemahkan generasi anak bangsa yang kelak akan menjadi pemimpin dan generasi yang meneruskan tongkat estafet kepemilikan bangsa dan negara ini.

Baca Juga :  Menteri Kelautan dan Perikanan Resmikan Gudang Beku Kapasitas 300 Ton di Indramayu

Sehebat apapun sumber daya alam kita, canggihnya infrastruktur dan modernya teknologi yang kita miliki, tidak akan berarti apa-apa jika generasi mudanya memiliki dampak stunting dalam dirinya akan memberi kekurangan seperti fisik yang mudah lelah, mental yang lemah kemampuan nalar yang rendah, serta pemahaman spiritual yang payah. Mereka tidak akan mampu menjadi sosok anak bangsa yang bermartabat.

Mari kita bersama-sama saling mengingatkan, minimal kepada saudara di lingkungan terdekat kita agar kita secara kolektif membangun kesadaran memperbaiki gizi anak-anak dan generasi muda kita. Berorientasi kepada manfaat, bukan pada harga dan rasa. Pola hidup dan kedisiplinan dijaga, serta selalu siaga dan waspada. Musuh kita tidak bisa dilihat dengan kasat mata, namun bisa dirasa melalui adanya berbagai gejala dan fenomena.

Memerangi stunting secara masif, sama dengan kita berperang di medang perang melawan musuh di ranah Perang Asimetris. Mereka tidak akan pernah berhenti, dan selalu berganti dalam melancarkan strategi. Bangsa Indonesia harus bebas dari masalah stunting, jika ke depan ingin menjadi bangsa dan negara yang oleh dunia dianggap penting.

Penulis adalah Pemerhati Perang Asimetris

(Red)

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Wajah Pemilu 2024, Masih Dibayangi Politik Identitas

Berita Dunia

Presiden Jokowi Dorong Negara G7 Investasi Sektor Energi Bersih di Indonesia

Berita Utama

Gerombolan Pelajar di Tegal Diamankan Polisi Ketauwan Membawa Samurai dan Celurit

TNI/POLRI

Kasad : Jabatan Adalah Amanah yang Harus Dipertanggungjawabkan

Berita Utama

Ketua MPR RI Bamsoet Apresiasi Bank Indonesia Terbitkan Uang Rupiah Kertas Baru Tahun Emisi 2022

Berita Utama

Pimpin Patroli Srikandi, Ini Pesan Senior Polwan Polres Tegal Kota

TNI/POLRI

Halal Bihalal Di Kodim 0623/Cilegon Pesan Danrem 064/MY ‘Harus Dengar Keluhan Masyarakat’

TNI/POLRI

Protap Polsek Warunggunung Polres Lebak meningkatkan Fungsi Pengamanan Mako