LOGO MEDIA KOMPASNEWS.COM
PIMRED MKN DAN WAKIL PIMRED MKN
DPPPA KABUPATEN TANGERANG MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1447 H
DINAS KESEHATAN KABUPATEN TANGERANG MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1447 H
KETUM OPAN FWJ INDONESIA
KOMISARIS PT MKN – FATIMAH SULAIMAN.SS
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
BUPATI KAB TANGERANG – H.MOCH.MAESYAL RASYID
GUBENUR BANTEN ANDRA SONI
KAPOLRES TANGERANG SELATAN
WALI KOTA TANGERANG SELATAN
WALI KOTA TANGERANG
WALI KOTA TANGERANG
KADIS DINSOS KAB TANGERANG

Home / Berita Utama / Budaya

Selasa, 23 Januari 2024 - 23:57 WIB

Aruh Adat Pemujaan Goa Tama Luang Bangkalaan Dayak

Mediakompasnews.com – Kab. Kotabaru – Aruh Adat Pemujaan Tama Luang dilaksanakan di Balai Adat Bangkalaan Dayak Kecamatan Kelumpang Hulu Kotabaru Kalimantan Selatan, Rabu (24/1-24).

Menurut keyakinan Datuk Nenek Moyang Orang Dayak terdahulu sebelum “Gua Tama Luang di zaman itu dikuasai oleh Orang yang tak dapat dilihat (Halus, Orang Gaib) dikatakan pada zaman itu selalu dilaksanakan pemujaan yang dipersembahkan jadi Korbannya adalah manusia: makanya Datuk Nenek Orang Dayak tidak bisa mengambilnya.

Terjadilah perjanjian agar Gua Tama Luang itu diserahkan pada Datuk Nenek Moyang Orang Dayak, dengan syarat agar melakukan Pemujaan setiap tahunnya Syarat yang sudah disepakati dengan Raja

Pertama yang dimintanya ibaratkan Manusia seperti Kisah Nabi Ismail yang dikorban oleh Ayahnya Nabi Ibrahim AS, yang didudukkan di Kursi Emas, tiba saatnya Ismail mau dikorbankan maka diganti Allah. SWT, (Tuhan YME) seekor Kibas ( Kambing )

Makanya setelah diserahkan pada Datuk Nenek Moyang Orang Dayak, tadinya persembahannya adalah manusia maka diganti dengan Hewan Kambing sebanyak 3 ekor 1 Kambing jenisnya laki-laki dan 2 Kambing yang Betina.

Baca Juga :  Bhabinkantibmas Polsek Pancoran Memberi Penyuluhan Kepada Karang Taruna Bahaya Narkoba Dan Aksi Tawuran 

Kemudian 1 Kepala Kambing yang jenisnya Laki-laki dipotong dan Kepalanya di berikan pada Gua Tama Luang ditaruh dibawah sangkar dan 1 lagi Kambing Betina ditaruh diatas tongkat, 1(satu) lagi Kambing betina ditaruh ditempat mangkok dan itu dimasak dengan masakan Over lalu ditaruh tempat Talam yang sudah diperaiapkan menjamu Tamu yang tidak lihat oleh secara kasat mata.

Pada saat pemujaan dipersiapkan sesajen 40 macam makanan, guna menjamu Roh-roh Datuk Nenek Moyang kepercayaan Orang Dayak yang ada mendiami Bangkalaan Dayak.

Namanya Gua Tama Luang itu isinya Burung Sarang Walet, jadi Gua Tama Luang itu diapit diselah-selah gunung yang letaknya di Bangkalaan Dayak yang saat ini dihuni penduduk asli keturunan Dayak yang meliputi hingga sampai Gunung Meratus.

Singkat cerita karena Raja itulah merupakan keturunan Islam, maka tidak dibenarkan melakukan Pemujaan, Sang raja menyerahkan pada Nenek Datuk Orang Dayak, jadi turunlah sampai keanak cucu yang ada.

Baca Juga :  Sidang KKEP Polri Putuskan Pertahankan Richard Eliezer Sebagai Anggota Polisi

Dengan rasa syukur makanya setiap tahunnya dilaksanakan pemujaan dengan sesajen makanan yang sudah dipersiapkan untuk dipersembahkan pada Roh-roh Datuk Nenek Moyang hingga sampai sekarang.

Adapun makanan sesajen dibuatkan sebanyak 40 macam masakan pertama tadi Kepala Kamping sudah dimasak, ada wajik Ketan, tatauk, kepala datu, cucur, sapang, usus ayam, atau berupa binatang, surabi, cucur,

Kalau Lanting itu penyerahannya lewat Lanting itu dilarutkan sampai kemuara laut hingga sampai kepusaran air, termasuk telur, makanya ini diberi nama penyerahan kepada Raja.

Sedangkan kepala kambing tadi dimasak Opor lalu disajikan dibuat dalam mangkuk dan itu tetap dipersembahkan pada Raja tadi, jadi terkait batandik itu dimulai duduk hingga batandik mengelilingi ancak memanggil para Leluhur, Ruh-ruh Datuk Nenek Moyang agar hadir.

Kalau Aruh dilaksanakan 6 malam ada tempatnya itu merupakan kewenangan Raja, dari kewenangan Raja tadi lalu diaerahkan keorang Dayak, karena Raja tidak bisa melakukan Aruh atau pemujaan dikarenakan Raja tadi itu agamanya Islam, diambillah oleh Orang Dayak dan ini dilaksanakan 3 tahun 1 kali, umpanya Aruh Pemujaan Gua Tama Luang tidak dilaksanakan, maka Orang keturunan yang mengkat Aruh Adat pemujaan kita Orang Dayak ini ada hilang, mati dan gila, karena mengingkari janji kesepakan yang sudah dibuat Raja dengan yang menguasai pertama adanya Gua Tama Luang artinya yang tidak dilihat.

Baca Juga :  Belum 1×24 jam, Tim Gabungan Tangkap Pelaku Penusukan Pemuda hingga Meninggal Dunia di Tangerang

Adapun tempat ini disebut Ancak Besar utusan Orang yang tidak dilihat pada Orang Dayak,kalau satunya ini namanya Sri jawa itu utusan untuk diberikan ke Raja.

Jadi perayaan Puncak Pemujaan Aruh Adat Gua Tama Luang dilaksanakan 4 malam dengan melakukan Pemotongan Hewan Kambing 3 ekor, demikian yang disampai oleh Ketua Adat mewakili Kepala Adat yaitu,” Uni.-
(Run).

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Vilar!!!! Vidio Oknum Kepala Desa di Medsos Menuay Menjadi Sorotan Pemerhati

Berita Utama

Wakil Presiden RI Tiba Di Kota Sorong Personil Gabungan TNI – Polri Amankan Kota Sorong

Berita Utama

Ganjar Mulai Penggunaan Mobil Listrik di Lingkungan Pemprov Jateng

Berita Utama

Polresta Palangka Raya Ikuti Rakernis Fungsi Perencanaan dan Anggaran Tahun 2023

Peristiwa

Polres Cirebon Kota menggelar Press Release Ungkap Kasus Jambret Yang Viral di Medsos

Berita Utama

Tingkatkan Kualitas Layanan, Rutan Kelas I Tangerang Konsisten Sambangi Blok Hunian

Berita Utama

Tanah Longsor di Jl Jogja Wonosari,Petugas Himbaukan Cari Jalan Alternatif Lain

Berita Utama

Damar Art Sebuah Cahaya Kecil Yang Nyinari Tradisi dan Budaya Banyuwangi Serta Nusantara