LOGO MEDIA KOMPASNEWS.COM
PIMRED MKN DAN WAKIL PIMRED MKN
KOMISARIS PT MKN
KETUM OPAN FWJ INDONESIA
PIMPINAN REDAKSI

Home / Berita Utama / Politik

Minggu, 24 Juli 2022 - 14:07 WIB

Jusuf Rizal: Partai Politik di Indonesia Tanpa Figur dan Basis Sulit Bertahan

Mediakompasnews.Com – Jakarta -Ketua Umum Paguyuban Loyalis Bapak HM. Soeharto, HM. Jusuf Rizal menyebutkan Partai Politik di Indonesia, tanpa kehadiran figur kuat dan basis pemilih akan sulit bertahan dan berkompetisi ditengah dinamika demokrasi.

Demikian disampaikan pria berdarah Madura-Batak yang juga Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) itu kepada media di Markas Komando Loyalis Bapak HM. Soeharto di Pangeran Antasari 20, Jakarta Selatan ketika ditanya masa depan Partai Politik di Indonesia.

Menurut Jusuf Rizal berdasarkan analisa politik saat ini, kehadiran partai politik yang demikian banyak belum cukup kuat memberi ruang demokrasi untuk dipilih rakyat, jika partai politik tersebut tidak memiliki aset figur dan basis pemilih (segmen) yang kuat.

“Kehadiran partai politik lemah figur dan basis pemilih, hanya akan jadi riak-riak demokrasi dan syahwat kelompok, seolah-olah bisa, namun pada kenyataannya pelan-pelan tidak bisa bertahan lama. Sebab pemilih di Indonesia masih banyak yang irrasional,” tegas Jusuf Rizal

Baca Juga :  Ketua Umum IMI Bamsoet Targetkan Museum Otomotif IMI Indonesia di TMII Selesai Juli 2023

Ia kemudian memberi contoh mudah partai politik yang bisa bertahan dengan kekuatan figur. Seperti Partai Demokrat mengandalkan figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kemudian Nasdem, figur Suryo Paloh. Gerindra menjual figur Prabowo Subianto. Hanura sebelumnya menjual Wiranto, tapi saat Wiranto keluar, Hanura yang memiliki 18 Kursi di DPR RI, tumbang.

“Artinya banyak partai-partai politik jika ditinggal oleh figur sebagai icon tidak bisa bertahan lama. Apakah setelah SBY, Prabowo dan Suryo Paloh tidak ada, partainya tetap kuat dan solid. Belum tentu, karena pemimpin lapis kedua belum cukup kuat sebagai pemangku tongkat estafet kepemimpinan partai,” tegas Ketum PWMOI (Perkumpulan Wartawan Media dan Online Indonesia) dan Sekjen MOI (Media Online Indonesia) itu.

Kemudian Jusuf Rizal merinci partai politik kuat karena memiliki basis atau segmen pemilih (segmen market politik). Dicontohkan PKS (Partai Kadilan Sejahtera) dan Gelora menggarap basis Islam moderat. PAN (Partai Amanat Nasional) dan Ummat menggarap basis Muhammadiyah. Begitu juga PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) menggarap basis NU (Nahdatul Ulama).

Baca Juga :  Berlangsung di Ruang Aula Lapas, Kegiatan Tersebut Diikuti Perwakilan Warga Binaan

Dikatakan sebelum Reformasi ada tiga partai kuat yaitu Golkar, PPP dan PDI. Masing-masing-masing memiliki basis kuat. Golkar menggarap basis pekerja dan birokrat. PPP garap basis NU, tapi kemudian melorot setelah hadir PKB mengambil basis NU. Kemudian PDI Pimpinan Suryadi dengan basis Soekarnois.

Tapi, setelah Megawati Soekarnoputri mendirikan PDI-P basis Soekarnois dibawa dan menjadikan Soekarno sebagai icon, PDI Pimpinan Suryadi ambruk dan jadi batu nisan. Kekuatan basis Soekarnois membuat PDIP Pimpinan Megawati Soekarno putri bertahan

Hal yang sama juga mulai dilakukan oleh partai pendatang baru Partai Parsindo (Partai Swara Rakyat Indonesia) yang menggarap Loyalis Bapak HM. Soeharto karena dinilai memiliki 20 juta lebih loyalis Bapak HM. Soeharto sebagai basis pemilih, selain segmen market lain, seperti kaum millenial, perempuan, pekerja dan buruh, kelompok nasionalis dan religius.

Baca Juga :  Kabupaten Pasaman Saat Ini Kekurangan Tenaga Dokter Untuk Memberikan Pelayanan Kepada Masyarakat

“Saya rasa kedepan partai politik harus mampu menggarap segmen market pemilih jika ingin bertahan dan kuat, selain figur, program yang dirasakan rakyat, menjadi partai yang berpihak kepada kepentingan masyarakat, adil dan mensejahterakan. Tanpa itu partai politik sulit bertahan,” tutur Jusuf Rizal yang juga Ketum Partai Parsindo (Partai Swara Rakyat Indonesia).

Untuk itu, lanjut Jusuf Rizal menuju Pemilu 2024 rakyat harus menjadi pemilih cerdas dan cermat. Pilih partai politik yang berpihak kepada kepentingan rakyat. Jangan juga memilih partai politik yang tidak berpotensi memiliki masa depan, karena sayang hak demokrasi rakyat tidak mampu melakukan perubahan nantinya.

(Red)

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Hakim PN Jakarta Selatan Tolak Eksepsi Permohonan Bupati Mimika

Berita Utama

Pemkab Batu Bara Bagikan Ribuan Bendera, Sambut HUT ke 77 Kemerdekaan RI

Berita Utama

Ketua KJK Berharap, Wartawan Yang Tergabung di KJK Harus Mengikuti KLW – UKW

Berita Utama

FORWATU Gelar Diskusi Publik Menghadapi Fenomena Anarkisme Anak Muda

Berita Utama

Tolak Kenaikan BBM, Ormas Perpam Kirimkan Pasukan Untuk Aksi Bersama GBB

Berita Utama

Meriahkan Hari Bhayangkara,Kabag Ops Kompol Amru: Buka Open Tournamen Volly Ball Kapolres Cup Di Mapolsek Kabun

Berita Utama

Air Bersih Bukan Sekadar Wacana, DPRD Harus Gerak!

Berita Utama

Lantik Pengganti Antar Waktu Anggota MPR RI, Ketua MPR RI Bamsoet Ajak Para Pemangku Kepentingan Jaga Kondusifitas Bangsa